Analisis Dengan Teori Rechtvinding Terhadap Putusan Hakim Tentang Perceraian Yang Terindikasi Nusyūz (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Brebes)

Main Article Content

Kharisma Putri Aulia Aznur

Abstract

Nusyūz secara etimologi berarti membangkang. Secara terminologi nusyūz berarti sikap tidak patuh dari seorang diantara suami isteri. nusyūz menurut para ulama, menurut fuqaha Hanafiyah yang mengartikan nusyūz sebagai bentuk ketidaksenangan yang terjadi antara suami dan isteri. Selanjutnya nusyūz menurut Malikiyah adalah saling menganiaya suami isteri. Sedangkan menurut ulama Syafi’iyah nusyūz merupakan perselisihan antara suami isteri. Dan Ulama Hanbaliyah mengartikan nusyūz sebagai ketidaksenangan dari pihak istri atau suami yang disertai dengan pergaulan yang tidak harmonis. apabila kita lihat dalam putusan perceraian yang ada di Pengadilan Agama Brebes, maka kita tidak akan menemukan putusan nusyūz. Meskipun dalam pokok permasalahan terlihat sekali apa yang terjadi antara pemohon dan termohon merupakan bentuk nusyūz. Hal ini terjadi karena nusyūz merupakan suatu perkara yang membutuhkan pembuktian, sehingga apabila dalam sebuah perkara terindikasi nusyūz, tetapi dalam pembuktiannya tidak terbukti nusyūz maka perkara tersebut tidaklah dikatakan nusyūz. Dan hakim tidak menjadikan nusyūz sebagai sebuah putusan, karena apabila dalam sebuah perkara dijatuhi putusan nusyūz, hal ini akan bersinggungan dengan hak-hak perempuan. Apabila hakim memutuskan suatu perkara itu nusyūz, dapat dikhawatirkan istri tidak akan memperoleh hak nafkah iddah dan mut’ahnya, sehingga dalam hal ini hakim sangat berusaha melindungi hak-hak yang seharusnya menjadi milik perempuan dengan cara tidak menjatuhkan putusan nusyūz pada suatu perkara. Nusyūz juga tidak termasuk dalam sebuah alasan perceraian yang terdapat pada peraturan Undang-Undang sehingga hakim tidak dapat memtuskan suatu perkara tersebut sebagai nusyūz.

Article Details

Section
Articles

References

Arto, Mukti, Mencari Keadilan, cet. ke-1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Arto, Mukti, Praktik Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet. ke-5, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Aṣ-Ṣābūni, Mohammad ‘Ali, Ṣafwah at-Tafasīr, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Tt.

Aulawi, Wasit, “Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia”, dalam Amrullah Ahmad, Dimensi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.

Az-Zuhaili, Wahbah, al-Fiqh al-Islāmiy wa Adillatuh, cet. IV, Bairut: Dar al-Fikr, 1997.

Az-Zuhaili, Wahbah, Tafsīr Al-Mūnir, juz V,Syiria: Dar El-Fikr, 1991.

Basyir, Ahmad Azhar, sebagaimana dikutip oleh : M. A. Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, Jakarta: Rajawali Pers, 2009.

Hamidi, Jazim, Hermeneutika Hukum, Yogyakarta: UII Press, 2005.

Hamidy, Mu’ammal dan Imran A. Manan, Terjemahan Tafsir Ayat Ahkam Ash-Shabuni, Surabaya: PT Bina Ilmu, 2008.
Mertokusumo, Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, cet. ke-1, Yogyakarta: Liberti, 2002.

Mertokusumo, Sudikno, Penemuan Hukum: Sebuah Pengantar, cet. III, Yogyakarta: Liberti, 2004.

Mugniyyah, Muhammad Jawad, Al-Aḥwal asy-Syakhṣiyyah, Bairut: Dar al-Ilm Li al-Malayin, 1964.

Mulyo, A. Mufrod Teguh, Reformasi Undang-Undang Perkawinan Di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2015.

Musa, Muhammad Yusuf, Aḥkam al-Aḥwal asy-Syakhṣiyyah fi Fiqh al-Islāmy, cet. I, Mesir: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1956.

Nasution, Khoiruddin, Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia dan Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim, Yogyakarta: ACAdeMIA+TAZZAFA, 2009.

Nawawi, Muhammad, Uqūd al-Lujjayn Fī Bayāni ḥuqūqizzaujain, Semarang : Pustaka Al-‘Alawiyah, Tt .

Noeh, Zaini Ahmad, “Perkembangan Hukum Keluarga Islam Setelah 50 tahun Kemerdekaan”, (Catatan untuk Ulang Tahun Emas Departemen Agama)”, Mimbar Hukum, Nomor 24 tahun VII, Januari-Februari 1966.

R.,M.Dahlan. ,Fikih Munakahat, dalam https://books.google.co.id/books/about/Fikih_Munakahat.html?id=_HVKCgAAQBAJ&redir_esc=y, diakses tanggal 31 Januari 2018.

Ridha, M. Rasyid, Nida’ li al jinsi Latif, Terj. A. Rivai Usman, “Perempuan Sebagai Kekasih”, Jakarta: Hikmah, 2004.

Ridwan, Membongkar Fikih Negara: Wacana Keadilan Gender dalam Hukum KeluargaIslam, Purwokerto: PSG STAIN Purwokerto, 2005. .
Rifai, Achmad, Penemuan Hukum Oleh Hakim Dalam Perspektif Hukum Progresif, Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Sabiq, Sayyid, Fiqh Sunnah, Jilid II, Madinah: al-Fatkh Li I’aamil Araby, 1990.

Sosroatmodjo, Arso dan A. Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, cet. Ke 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Sutiyoso, Bambang, Metode Penemuan Hukum, Yogyakarta: UII Press, 2006.

Syakir, Syaikh Ahmad, Mukhtaṣar Tafsīr Ibnu Kaṡir Jilid II, Jakarta: Darus Sunah, 2014.

Thalib,Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI Press, 1986.
.
al-Saldani, Saleh bin Ganim, Nusyūz, alih bahasa A. Syaiuqi Qadri, cet. VI, Jakarta: Gema Insani Press, 2004.

CH ,Mufidah, Psikologi Keluarga Islam, Malang: UIN Maliki Press, 2013.

Dahlan,Abdul Aziz, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.

M. Thalib, 20 Perilaku Durhaka Isteri terhadap Suami, Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1997.

Mas’udi, Masdar Farid, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, cet. I, Bandung: Mizan, 1997.

Muhsin, Amina Wadud, Wanita di dalam Al-Qur’an, terj. Yaziyah Radianti Bandung: Pustaka, 1994.

Rahma, Dudung Abdul, Mengembangkan Etika Berumah Tangga Menjaga Moralitas Bangsa Menurut Al Qur’an, Bandung: Nuansa Aulia, 2006.

Tanzeh, Ahmad, Metodologi Penelitian Praktis, Yogyakarta: Teras,2011.

Wadud, Amina, Qur’an dan Perempuan, Jakarta: Serambi,2000.

UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Kompilasi Hukum Islam